Kenyataan banyak orang yg di anggap pintar berpendidikan tetapi bisa di nilai salah oleh orang bodoh karena perkataanya.
Sering saya amati orang-orang yang terlihat pemberani dari sikap/ucap/tindakannya terhadap orang lainnya tetapi keberaniannya itu bukan karena berdasar kebenaran/bukan karena kekuatan dirinya sendiri tetapi karena berada di balik baju dinasnya/ di balik jabatannya/ di balik golongannya/ di balik orang-orang kuat lainnya/ di balik harta bendanya dan karena kesombongan dirinya yang merasa diri lebih dari orang lainnya.
Secara umum orang gila yang benar2 gila tidak akan tersinggung bila dirinya di sebut orang gila karena otak dan pemikirannya sudah tidak berpungsi secara normal alias hilang akal dan pikirannya.
Ada orang yang tidak gila akan tersinggung bila dirinya disebut orang gila lalu introspeksi bila dirinya di sebut orang gila.
Ada orang yang tidak gila akan tersinggung lalu marah bila dirinya disebut orang gila.
Ada orang yang tidak gila akan tersinggung tapi tidak akan introspeksi, atau akan tersinggung tapi tidak akan marah bila dirinya di sebut orang gila.
Ada orang yang pura-pura gila akan tersinggung lalu marah atau akan acuh tidak peduli bila dirinya di sebut orang gila.
Ada orang gila setengah sehat dan ada orang sehat setengah gila.
Ada orang gila pangkat, kedudukan, harta dll.
Masih ingat tahun 2004 saya pernah di sebut orang setres dan gila sampai dua orang psikiater di datangkan untuk memeriksa kejiwaan saya dan hasilnya psikiater itu malah heran dan bertanya "kenapa anda bisa pintar" sedangkan diri saya tetap merasa bodoh sampai saat ini juga tetapi tidak stres dan tidak gila.
Bukti sifat lemah dan kurangnya diri manusia yang walaupun pintar berilmu, tinggi berpendidikan dengan menyandang sederet gelar keakademisan, memperoleh pangkat dan jabatan tinggi menjadi orang terhormat sebagai pejabat yang memimpin orang banyak/rakyat tetapi dengan ucapan/perkataan yg menyimpang dari kebenaran Allah maka seketika itu jadilah orang yang bodoh dan rendah di mata manusia lainnya.
Sering saya berhadapan dengan orang berpendidikan tinggi tapi lagi-lagi harus beda pendapat dan harus berdebat padahal yang benar itu nampak jelas tak perlu lagi di singkap. Pertanyaannya apa yang dia lihat mungkin tak di ketahuinya atau karena mata dan hatinya memang buta akan yang benar itu. Wallahu a'lam.