Di sa'at sekarang ini saya yakin banyak orang baik merasa bingung bagaimana harus bersikap/berbuat/berkata karena melihat keadaan.

Ada orang pintar tapi tidak mengerti, ada orang mengerti tapi tidak pintar.

Secara penilaian manusia yg berdasar hati dan otak yg sehat orang baik itu tidak di ukur dari rupa dan bentuk tubuh tetapi dari sikap/prilaku/perkataan/perbuatan yg baik.

Tiada sesuatu hal yang mustahil bagi Allah tapi kebanyakan manusia merasa heran.

Masih ingat tahun 2004 saya pernah di sebut orang setres dan gila sampai dua orang psikiater di datangkan untuk memeriksa kejiwaan saya dan hasilnya psikiater itu malah heran dan bertanya "kenapa anda bisa pintar" sedangkan diri saya tetap merasa bodoh sampai saat ini juga tetapi tidak stres dan tidak gila.

Melihat dan menilai kekurangan dan kesalahan diri orang lain itu sangatlah mudah dengan tidak menyadari kekurangan dan kesalahan diri sendiri.

Sombong itu di larang tetapi memperlihatkan kemampuan diri itu harus pada setiap kondisi yang di haruskannya.

Sikap berani orang mabuk pastilah karena tak sadar diri.

Bukti sifat lemah dan kurangnya diri manusia yang walaupun pintar berilmu,  tinggi berpendidikan dengan menyandang sederet gelar keakademisan, memperoleh pangkat dan jabatan tinggi menjadi orang terhormat sebagai pejabat yang memimpin orang banyak/rakyat tetapi dengan ucapan/perkataan yg menyimpang dari kebenaran Allah maka seketika itu jadilah orang yang bodoh dan rendah di mata manusia lainnya.

Dalam banyak hal kita perlu memikirkan orang lain, seperti ketika kita sedang berjalan di jalan yang sempit maka kita harus mau memikirkan orang lain yang berjalan di belakang yang searah dengan kita.

Dalam banyak hal kita untuk berkata menyampaikan yang hak/benar itu ada rasa ketakutan dan orang lain menilai itu kesalahan.

Perasaan dan pikiran bisa mempengaruhi sikap.